CIREBON — Desa Karangsuwung, Kecamatan Karangsembung, Kabupaten Cirebon, kini semakin mantap melangkah menjadi Desa Wisata setelah resmi ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten Cirebon melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar), Jumat (10/10/2025).
Penetapan ini bukan sekadar formalitas administratif, tetapi menjadi tonggak penting dalam pengembangan potensi sejarah, religi, dan ekonomi masyarakat setempat yang begitu kaya.
Kuwu Desa Karangsuwung, Arief Nurdiansyah, S.E., mengatakan bahwa status desa wisata ini merupakan hasil kerja keras bersama antara pemerintah desa, masyarakat, dan berbagai pihak yang peduli terhadap pelestarian warisan budaya lokal.
> “Kami tidak ingin sejarah Karangsuwung hanya jadi cerita masa lalu. Melalui desa wisata, kami ingin menjadikannya sumber kehidupan dan kebanggaan bagi warga,” ujar Arief.
Eks PG Karangsuwung dan Langkah Besar Pengembangan Wisata
Eks Pabrik Gula (PG) Karangsuwung menjadi bagian utama dari konsep pengembangan wisata desa. Kawasan peninggalan kolonial ini akan disulap menjadi destinasi wisata bernuansa vintage heritage, hasil kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Cirebon, PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), dan investor melalui penandatanganan MoU.
“Kawasan ini memiliki nilai sejarah tinggi dan akan dikembangkan menjadi ikon wisata Cirebon timur yang edukatif dan berkelanjutan,” jelas Arief.
Selain memperkuat potensi wisata sejarah, Arief menegaskan bahwa pengembangan tersebut akan membuka peluang baru bagi pelaku UMKM untuk tumbuh dan berdaya.
Warisan Sejarah yang Tak Lekang Waktu
Desa Karangsuwung juga menyimpan tiga jejak bersejarah yang menjadi daya tarik wisata religi dan budaya, yakni Astana Paliangan, Masjid Al-Falah, dan Sumur Kotak.
Situs Astana Paliangan di Blok Puhun menjadi salah satu lokasi paling dihormati. Di dalamnya terdapat makam seorang panglima perang masa lalu serta sumur keramat yang airnya tidak pernah surut, simbol keberkahan dan keteguhan masyarakat Karangsuwung.
Masjid Al-Falah, berdiri kokoh sejak tahun 1854, menampilkan arsitektur klasik yang mirip dengan Masjid Keraton Kanoman. Masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga saksi bisu perjalanan panjang spiritual masyarakat setempat.
Sumur Kotak di Blok Wage menjadi fenomena tersendiri. Sumur dengan air jernih yang tak pernah kering ini diyakini sebagai sumber kehidupan dan lambang keseimbangan alam di Karangsuwung.
“Warisan ini bukan sekadar objek wisata, tapi cermin dari identitas dan spiritualitas warga Karangsuwung yang patut dijaga,” tegas Arief.
Inovasi Masyarakat Menuju Kemandirian Ekonomi
Untuk memperkuat ekosistem pariwisata, pemerintah desa mendorong warga agar aktif berinovasi dalam menciptakan produk lokal unggulan. Mulai dari kerajinan tangan, kuliner tradisional, hingga pengelolaan homestay bagi wisatawan.
Selain itu, rencana pembangunan alun-alun PG Karangsuwung tengah disiapkan sebagai pusat kegiatan UMKM dan atraksi budaya desa.
“Kami ingin wisatawan datang tidak hanya untuk melihat sejarah, tapi juga menikmati produk karya masyarakat kami,” imbuh Arief.
Dengan kombinasi kekayaan sejarah, budaya, religi, serta dukungan masyarakat, Desa Karangsuwung kini menapaki babak baru — dari desa bersejarah menjadi Desa Wisata berkarakter dan berdaya saing tinggi, yang tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga menghidupkan ekonomi masyarakatnya.
Caption: Kuwu Karangsuwung, Arief Nurdiansyah, saat meninjau situs Astana Paliangan yang menjadi salah satu ikon wisata religi dan sejarah di desanya.



















