banner 728x250

Jembatan Gantung Babakan Losari Baru 3 Bulan Diresmikan Sudah Ambrol, Warga Pertanyakan Kualitas Proyek

IMG 20251116 WA0031
banner 120x600
banner 468x60

CIREBON — Jembatan Gantung Babakan Losari, yang menjadi akses vital penghubung antara Desa Babakan Losari Lor di Kabupaten Cirebon dan Desa Babakan Losari di Kabupaten Brebes, mendadak ambrol meski baru tiga bulan diresmikan.

Kerusakan tersebut memicu keresahan warga sekaligus pertanyaan besar mengenai kualitas pembangunan yang seharusnya memenuhi standar keamanan tinggi.

banner 325x300

Jembatan sepanjang 230 meter dan lebar 1,8 meter ini sebelumnya diharapkan menjadi solusi bagi mobilitas masyarakat. Namun kini, kerusakannya justru mengancam keselamatan warga dan membuat akses antarwilayah terputus.

Diresmikan Meriah, Tapi Tidak Bertahan Lama

Ironisnya, jembatan tersebut baru diresmikan pada 23 Agustus 2025 oleh Direktorat Jenderal Bina Marga (DJBM) Kementerian PUPR. Acara peresmian kala itu berlangsung meriah dan dihadiri sejumlah pejabat, mulai dari Bupati Cirebon H. Imron, anggota DPR RI H. Dedi Wahidi, Ketua DPRD Shopi Zulfia, hingga jajaran Forkopimda.

Namun kehadiran para pejabat tidak berbanding lurus dengan kualitas konstruksi. Baru hitungan bulan, jembatan yang dibangun dengan anggaran negara ini sudah menunjukkan kegagalan struktur yang cukup serius.

Warga: “Materialnya Tidak Kokoh, Mudah Jebol Saat Terkena Air”

Yusuf, salah satu warga Babakan Losari Lor, menduga ambrolnya jembatan terjadi pada malam hari. Ia menekankan bahwa jika kerusakan terjadi pada pagi hari, potensi korban jiwa sangat besar karena jembatan kerap dikunjungi warga.

“Sepertinya kejadiannya tadi malam. Kalau siang bisa bahaya sekali,” ujarnya.

Menurut Yusuf, bagian struktur dinding jembatan hanya menggunakan pasangan batu dengan isi urugan tanah. Kondisi tersebut membuat jembatan rentan terhadap resapan air.

“Dalamnya urugan tanah. Kena air sedikit saja bisa retak dan akhirnya jebol,” jelasnya.

Bukan Karena Hujan Deras atau Banjir

Yang membuat warga semakin heran, kerusakan terjadi bukan pada saat banjir atau hujan ekstrem. Sungai Cisanggarung dalam kondisi normal ketika kerusakan terjadi.

“Semalam bahkan tidak banjir. Kalau sampai banjir besar, mungkin sudah habis,” kata Yusuf.

Fakta ini memperkuat kecurigaan warga bahwa masalah utama ada pada kualitas konstruksi, bukan faktor alam.

Akses Ditetapkan Ditutup Total

Untuk menghindari risiko, jalur jembatan kini ditutup bagi umum. Banyak warga yang biasanya datang hanya untuk menikmati pemandangan atau mengambil foto tidak diperbolehkan melintas.

“Biasanya ramai. Makanya ditutup supaya tidak ada yang celaka,” ujar Yusuf.

Tuntutan Warga: Evaluasi, Audit, dan Pertanggungjawaban

Kerusakan dini jembatan ini menambah panjang daftar proyek infrastruktur desa yang tidak tahan lama setelah diresmikan. Masyarakat mendesak pemerintah untuk: mengevaluasi total kualitas konstruksi, melakukan audit teknis terhadap pengerjaan proyek, memastikan pihak pelaksana bertanggung jawab, serta memperbaiki jembatan sesegera mungkin.

Warga menilai kejadian ini seharusnya menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah dan pusat agar tidak hanya menargetkan peresmian proyek, tetapi memastikan ketahanan dan keamanan infrastruktur jangka panjang.

Monumen Kegagalan atau Akan Dibenahi?

Ambrolnya Jembatan Gantung Babakan Losari menjadi cerminan nyata bahwa pembangunan tidak cukup berhenti pada seremoni.

Ketika jembatan yang baru seumur jagung sudah runtuh, yang patut dipertanyakan bukan hanya kualitas material, tetapi manajemen proyek secara keseluruhan.

Kini, masyarakat menunggu jawaban: apakah jembatan ini akan segera diperbaiki dengan kualitas lebih baik, atau justru menjadi monumen kegagalan proyek yang dibiarkan membusuk di tengah kebutuhan akses masyarakat?

banner 325x300