CIREBON — Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) kembali memperkuat komitmen merawat toleransi dan persaudaraan kebangsaan melalui kegiatan PKUB Goes to Pesantren.
Kegiatan tersebut dikemas dalam bedah buku Kerukunan Umat Beragama karya K.H. M. Adib Abdushomad, M.Ag., M.Pd., Ph.D, Kepala PKUB, yang digelar di Pondok Pesantren Gedongan, Kabupaten Cirebon, Jumat (19/12/2025).
Acara ini menjadi ruang refleksi sosial dan keagamaan untuk meneguhkan pentingnya nilai kerukunan di tengah realitas masyarakat Indonesia yang majemuk.
Bedah buku tersebut juga merupakan bagian dari rangkaian Haul Pondok Pesantren Gedongan yang puncaknya akan dilaksanakan pada 7 Februari 2026, setelah sebelumnya diisi dengan peringatan Hari Santri, sosialisasi Ideologi Pancasila bersama BPIP, serta program PKUB Goes to Pesantren.
Diskusi buku dipandu Kyai Afif Yahya Aziz, S.H., dengan menghadirkan sejumlah tokoh lintas latar belakang.
Hadir sebagai narasumber sesepuh Ponpes Gedongan K.H. Abubakar Muhtarom, Prof. Dr. H. Jamali, M.Ag. (dosen UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon), Prof. Dr. Philip Kuntjoro Widjaja (Ketua Umum Permabudhi), K.H. Husein Muhammad (Ketua Yayasan Fahmina), serta Drs. K.H. Wawan Arwani Amin, M.A. (Ketua FKUB Kabupaten Cirebon).
Dalam pemaparannya, K.H. M. Adib Abdushomad menjelaskan bahwa buku Kerukunan Umat Beragama merupakan rekam jejak pemikiran sekaligus praktik nyata PKUB dalam membangun harmoni keagamaan di Indonesia.
Buku tersebut merangkum gagasan, refleksi, dan opini yang sebelumnya dimuat di berbagai media nasional dan internasional, seperti Kompas dan The Jakarta Post.
“Buku ini adalah catatan tentang bagaimana merawat kerukunan dan pentingnya mencegah konflik sebelum konflik itu benar-benar terjadi,” ujar KH. Adib.
Ia menegaskan bahwa kerukunan dan kedamaian merupakan prasyarat utama pembangunan. Tanpa stabilitas sosial, menurutnya, hasil pembangunan akan mudah runtuh.
“Kalau tidak ada rukun dan damai, bukan hanya sulit membangun, bahkan yang sudah dibangun pun bisa hancur,” tegasnya.
KH. Adib juga mengulas sejumlah program strategis Kementerian Agama yang dibahas dalam bukunya, seperti IWC Rukun dan Kurikulum Cinta, yang bertujuan menanamkan kesadaran damai sejak dini.
Ia menambahkan bahwa isu kerukunan telah menjadi perhatian serius pemerintah dan tercantum dalam Asta Cita Presiden, khususnya poin kedelapan.
“Merawat kerukunan umat beragama bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab seluruh warga bangsa,” katanya.
Dalam konteks era digital, KH. Adib turut mengingatkan pentingnya literasi digital, terutama bagi generasi muda.
Ia menilai hoaks dan disinformasi di media sosial berpotensi memicu konflik jika tidak disikapi dengan bijak.
“Setiap informasi harus diverifikasi. Jangan mudah membagikan berita yang belum jelas kebenarannya,” pesannya.
Ke depan, PKUB berharap Indonesia dapat tampil sebagai destinasi sekaligus teladan dunia dalam praktik kerukunan umat beragama.
Optimisme tersebut diperkuat oleh pengakuan internasional, termasuk dari delegasi Austria dalam program Indonesia Interfaith Scholarship (IIS), yang menilai masa depan kerukunan umat beragama ada di Indonesia.
Sebagai langkah internasionalisasi, PKUB kini mengembangkan platform digital multibahasa, termasuk bahasa Inggris dan Arab, serta mendorong FKUB daerah untuk mengangkat kearifan lokal ke panggung global.
Pada 2026 mendatang, Indonesia juga direncanakan menjadi tuan rumah International Summit for Peace, Integrity, and Responsive on Ecotheology (INSPIRE).
“Ini bagian dari diplomasi keagamaan, menghubungkan isu perdamaian, integritas bangsa, dan kepedulian lingkungan. Jika kita mencintai bumi, bumi pun akan mencintai kita,” tutur KH. Adib.
Sementara itu, K.H. Husein Muhammad menilai buku tersebut memiliki kekuatan karena berangkat dari pengalaman nyata.
Menurutnya, pengalaman lapangan menjadi sumber pengetahuan otentik agar masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang memecah belah.
“Lebih baik merawat kerukunan sebelum konflik terjadi, daripada menyesal setelah konflik pecah,” ujarnya.
Pendapat serupa disampaikan Prof. Dr. H. Jamali, M.Ag., yang menyebut buku ini memadukan pendekatan teoritis dan praktik di lapangan.
Ia menilai kerukunan terbukti menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas sosial dan keberagaman Indonesia.
Ketua Umum Permabudhi, Prof. Dr. Philip Kuntjoro Widjaja, menyoroti pentingnya forum-forum kerukunan, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Menurutnya, Indonesia memiliki modal sosial yang kuat untuk menjadi contoh global dalam membangun harmoni antarumat beragama.
Sementara itu, Ketua FKUB Kabupaten Cirebon, Drs. K.H. Wawan Arwani Amin, M.A., menegaskan bahwa Cirebon merupakan potret nyata kehidupan masyarakat yang rukun dalam keberagaman.
Ia menyinggung sejarah toleransi sejak masa Sunan Gunung Jati hingga praktik kehidupan lintas agama yang masih terjaga hingga kini.
“Islam memang mayoritas di Cirebon, tetapi Islam yang berkembang adalah Islam yang ramah dan tidak melukai. Inilah yang membuat kerukunan tetap terpelihara,” katanya.



















