banner 728x250

IGD RS UMC Astanajapura Disorot: Pasien Dibiarkan Menunggu Tanpa Tindakan, Rumah Sakit Dinilai Lalai

IMG 20260403 WA0017
banner 120x600
banner 468x60

CIREBON – Pelayanan Instalasi Gawat Darurat (IGD) di Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) Astanajapura menuai sorotan tajam.

Keluarga pasien menilai pihak rumah sakit lalai karena tidak memberikan penanganan medis segera terhadap pasien yang datang dalam kondisi sakit.

banner 325x300

Keluhan tersebut disampaikan Yuyun Sri Wahyuni, anak dari pasien H. Wasra, yang mengaku kecewa berat atas pelayanan yang diterima saat membawa ayahnya ke IGD pada Rabu malam (1/4/2026).

Menurut Yuyun, sejak awal kedatangan, tidak ada respons cepat dari petugas medis. Ia bahkan harus mendatangi dokter secara langsung untuk meminta agar ayahnya diperiksa.

“Tidak ada sambutan, tidak ada tindakan. Saya sendiri yang harus mencari dokter dan meminta agar bapak saya ditangani,” ujarnya, Kamis (2/4/2026).

Setelah pemeriksaan awal, dokter memang menyarankan rawat inap. Namun, alih-alih mendapatkan penanganan medis, keluarga pasien justru diminta menunggu ketersediaan kamar tanpa tindakan apa pun.

“Saya tidak masalah kalau kamar penuh, tapi pasien itu harus ditangani dulu. Minimal dipasang infus atau diberi obat. Ini tidak ada tindakan sama sekali, hanya disuruh menunggu,” tegasnya.

Ia menyebut kondisi tersebut berlangsung lebih dari satu jam, sejak sekitar pukul 18.00 WIB hingga menjelang waktu Isya. Selama itu, pasien disebut tidak mendapatkan penanganan lanjutan, sehingga memicu kemarahan keluarga.

“Bapak saya seperti dibiarkan. Tidak ada tindakan sedikit pun. Ini yang membuat saya marah dan akhirnya memilih pindah rumah sakit,” katanya.

Yuyun kemudian membawa ayahnya ke RSUD Gunung Jati Cirebon. Di sana, ia mengaku pasien langsung mendapatkan penanganan tanpa harus menunggu lama.

“Begitu sampai di RS Gunung Jati, langsung ditangani. Sangat berbeda,” ungkapnya.

Tak hanya itu, Yuyun juga mengaku melihat adanya perbedaan perlakuan terhadap pasien lain di IGD RS UMC, yang semakin memperkuat kekecewaannya terhadap pelayanan rumah sakit tersebut.

Ia pun mendesak pihak RS UMC Astanajapura untuk bertanggung jawab dan segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja tenaga medis, khususnya di bagian IGD.

“Ini soal nyawa. Jangan sampai ada pasien lain yang mengalami hal serupa,” tegasnya.

Sementara itu, pihak RS UMC Astanajapura melalui Humas, Toha, membantah adanya kelalaian dalam penanganan pasien. Ia menyatakan bahwa seluruh prosedur telah dijalankan sesuai standar operasional.

Menurutnya, pasien datang dengan kondisi mual, muntah, dan diare, yang berdasarkan hasil pemeriksaan masuk dalam kategori gawat tidak darurat (kode kuning).

“Pasien sudah dilakukan pemeriksaan awal oleh perawat dan dokter. Penanganan dilakukan sesuai prioritas medis,” jelasnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa saat itu kondisi rumah sakit sedang penuh, sehingga tim medis harus melakukan penyesuaian untuk menyediakan ruang perawatan.

“Kami membutuhkan waktu untuk menyiapkan ruang. Dalam sekitar 30 menit, ruang kelas III sudah tersedia,” katanya.

Meski demikian, pihak rumah sakit mengakui adanya kemungkinan miskomunikasi dengan keluarga pasien yang memicu ketidakpuasan.

“Kami mohon maaf jika ada komunikasi yang kurang baik. Ini menjadi evaluasi kami ke depan,” ujarnya.

Kasus ini kembali menyoroti pentingnya respons cepat dan komunikasi efektif dalam pelayanan IGD, mengingat setiap keterlambatan penanganan berpotensi berdampak serius terhadap keselamatan pasien.

banner 325x300