CIREBON – Sebanyak 465 mahasiswa Universitas Islam (UI) Bunga Bangsa Cirebon resmi diberangkatkan untuk mengikuti Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) dan program magang Tahun 2026. Selama 40 hari ke depan, para mahasiswa akan melaksanakan pengabdian di 33 desa yang tersebar di Kabupaten dan Kota Cirebon, Kabupaten Majalengka, Kabupaten Kuningan, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, hingga Kota Malang. Senin (20/7/2026).
Mengusung tema “Transformasi Artificial Intelligence, Ekoteologi, dan Kearifan Budaya Lokal dalam Desa yang Berdampak”, KPM tahun ini menitikberatkan pada pengembangan desa melalui pemanfaatan teknologi digital yang dipadukan dengan pelestarian budaya serta nilai-nilai keagamaan.
Rektor UI Bunga Bangsa Cirebon, Dr. H. Oman Fathurohman, M.A., mengatakan tema tersebut dipilih sebagai bentuk respons perguruan tinggi terhadap perkembangan zaman yang menuntut kemampuan adaptasi teknologi tanpa mengesampingkan identitas budaya masyarakat.
Ia menjelaskan, mahasiswa diharapkan mampu menjadi penghubung antara perkembangan teknologi dengan kebutuhan masyarakat desa melalui berbagai program yang aplikatif dan berkelanjutan.
“Melalui KPM ini, mahasiswa tidak hanya belajar mengabdi kepada masyarakat, tetapi juga dituntut menghadirkan inovasi yang memanfaatkan Artificial Intelligence sebagai solusi atas berbagai persoalan desa, dengan tetap berlandaskan nilai-nilai agama dan kearifan budaya lokal,” ujarnya.
Menurut Oman, pemanfaatan AI memiliki peluang besar untuk membantu meningkatkan pelayanan masyarakat, memperkuat sektor ekonomi, hingga mengoptimalkan potensi desa di era transformasi digital.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengumumkan kebijakan baru terkait pelaksanaan KPM. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, seluruh sekretariat atau posko mahasiswa kini diarahkan berada di kantor Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), bukan lagi di kantor desa.
Kebijakan itu diambil sebagai upaya menghidupkan kembali fungsi masjid, tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pendidikan, pemberdayaan ekonomi, kegiatan sosial, dan pembinaan masyarakat.
Selain memperkenalkan teknologi AI, mahasiswa juga akan melaksanakan berbagai program yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat, mulai dari pengelolaan lingkungan dan sampah, peningkatan kualitas pendidikan, penguatan ekonomi warga, hingga mendukung program pembangunan yang dijalankan Pemerintah Kabupaten Cirebon.
Ketua Pelaksana KPM 2026 sekaligus Ketua Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Mia Nurislamiah, M.Sos., mengatakan seluruh peserta telah dibekali melalui lokakarya sebelum diterjunkan ke lokasi pengabdian.
Menurutnya, pembekalan tersebut bertujuan agar mahasiswa mampu menyusun program kerja berdasarkan kondisi nyata di lapangan sehingga hasil pengabdian tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata.
“Kami membekali mahasiswa agar mampu membaca kebutuhan masyarakat secara langsung, sehingga setiap program yang dilaksanakan benar-benar memberikan manfaat dan memiliki dampak jangka panjang,” jelasnya.
Pelepasan peserta KPM turut dihadiri Staf Ahli Bidang Hukum, Politik, dan Pemerintahan Pemerintah Kabupaten Cirebon, Sukana, yang hadir mewakili Bupati Cirebon.
Dalam sambutannya, Sukana mengapresiasi konsistensi UI Bunga Bangsa Cirebon yang terus berkontribusi mendukung pembangunan daerah melalui kegiatan pengabdian masyarakat.
Menurutnya, tema KPM yang menggabungkan kecerdasan buatan, pendekatan ekoteologi, dan pelestarian budaya lokal menjadi langkah yang relevan dalam menghadapi tantangan pembangunan desa di masa depan.
“Pemerintah Kabupaten Cirebon menyambut baik pelaksanaan KPM ini. Kami berharap mahasiswa mampu menjadi mitra masyarakat dalam menghadirkan inovasi, meningkatkan kapasitas desa, sekaligus menjadi inspirasi bagi warga untuk terus berkembang,” katanya.
Melalui KPM Tahun 2026, UI Bunga Bangsa Cirebon berharap para mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman akademik dan sosial selama berada di tengah masyarakat, tetapi juga mampu melahirkan program-program pemberdayaan yang berkelanjutan.
Dengan memadukan pemanfaatan Artificial Intelligence, nilai ekoteologi, dan pelestarian kearifan budaya lokal, kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat pembangunan desa yang lebih maju, mandiri, serta mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa kehilangan jati dirinya.



















