CIREBON – Proyek peningkatan Jalan Halimpu–Wangkelang di Desa Jatipancur, Kecamatan Greged, Kabupaten Cirebon, kembali menyedot perhatian publik.
Jalan dengan nilai anggaran Rp455.029.000 itu ambrol hanya sehari setelah dinyatakan selesai. Meski telah diperbaiki ulang oleh CV. Adi Jaya Mahawira pada Selasa (13/1/2026), peristiwa ini justru membuka tabir kegagalan semua pihak yang terlibat dalam proyek tersebut.
Ambrol Sehari Usai Rampung, Anggaran Fantastis Dipertanyakan
Kerusakan jalan dalam waktu sangat singkat memicu kemarahan masyarakat. Proyek bernilai ratusan juta rupiah dinilai tidak mencerminkan kualitas dan ketahanan yang semestinya.
Fakta ini memperkuat dugaan bahwa pelaksanaan proyek dilakukan tanpa perencanaan teknis yang matang dan pengawasan yang serius.
Alasan Kelebihan Hotmix Dinilai Tak Masuk Akal
Perwakilan CV. Adi Jaya Mahawira, Selvi, berdalih ambrolnya jalan terjadi akibat penambahan lapisan hotmix di ruas jalan menurun karena adanya kelebihan material. Penambahan tersebut, menurutnya, dilakukan atas arahan pengawas lapangan.
“Karena ada kelebihan hotmix, pengawas mengarahkan agar dihabiskan dan digelar lagi untuk melapisi jalan yang sudah jadi. Tapi karena keburu hujan, lapisan tambahan itu ambrol,” ujarnya.
Namun alasan tersebut dinilai tidak logis. Penambahan hotmix tanpa kajian teknis, apalagi dilakukan di kontur jalan menurun dan menjelang hujan, justru mencerminkan ketidakpahaman prosedur dan kelalaian fatal di lapangan.
Kontraktor Tetap Klaim Sesuai Spesifikasi
Meski fakta kerusakan tak terbantahkan, pihak kontraktor tetap bersikukuh bahwa pekerjaan telah dilaksanakan sesuai spesifikasi teknis.
Klaim ini menuai kritik keras karena bertolak belakang dengan kondisi riil di lapangan, di mana jalan tak mampu bertahan bahkan satu hari setelah dinyatakan selesai.
Pengawas dan DPUTR Tak Bisa Lepas Tangan
Kepala Bidang Bina Marga DPUTR Kabupaten Cirebon, Iwan Santoso, mengakui adanya kesalahan teknis dalam pelaksanaan pekerjaan.
Ia menegaskan bahwa kelebihan hotmix seharusnya tidak ditaburkan kembali apabila volume pekerjaan telah terpenuhi.
“Kalau volume sudah memenuhi, kelebihan hotmix itu seharusnya dibawa pulang. Menaburkan kembali jelas tidak tepat secara teknis,” tegasnya.
Pernyataan tersebut justru mempertegas lemahnya fungsi pengawasan. Pengawas lapangan yang membiarkan kesalahan fatal ini terjadi dinilai gagal menjalankan tugas, sementara DPUTR sebagai penanggung jawab utama dinilai tidak maksimal dalam mengendalikan mutu pekerjaan.
Hujan Bukan Alasan, Kesalahan Murni Manusia
Iwan menegaskan bahwa hujan seharusnya tidak dijadikan kambing hitam. Menurutnya, jika pekerjaan dilakukan sesuai kaidah teknis, lapisan hotmix tetap akan mengikat kuat meski diguyur hujan.
“Kalau teknisnya benar, hujan tidak akan menyebabkan kerusakan seperti ini,” ujarnya.
Proyek Akhir Tahun Jadi Akar Masalah
Kejadian ini kembali menegaskan persoalan klasik proyek infrastruktur daerah yang dipaksakan dikerjakan di akhir tahun anggaran dan bertepatan dengan musim hujan. Pola ini dinilai sebagai penyebab utama rendahnya kualitas pekerjaan dan tingginya risiko kegagalan.
Publik Desak Evaluasi dan Sanksi Tegas
Meski perbaikan telah dilakukan, publik menilai kejadian ini tidak boleh berhenti pada perbaikan fisik semata.
Evaluasi menyeluruh dan sanksi tegas terhadap kontraktor, pengawas, serta pihak DPUTR dinilai mutlak diperlukan agar kejadian serupa tidak terus berulang dan kepercayaan publik terhadap pengelolaan uang negara dapat dipulihkan.



















