CIREBON – Usai dikecam Aliansi Peduli Cirebon Selatan (ASPECS), kondisi hasil pekerjaan Peningkatan Jalan Halimpu–Wangkelang di Desa Jatipancur, Kecamatan Greged, Kabupaten Cirebon kembali menuai kritik tajam.
Kali ini, sorotan keras datang dari Presidium Oposisi Berontak Rakyat Cirebon Timur (Obor Cirtim). Senin (12/1/2026).
Proyek peningkatan jalan milik Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kabupaten Cirebon dengan nilai anggaran Rp 455.029.000,- tersebut dilaporkan kembali ambrol hanya sehari setelah dinyatakan rampung dikerjakan.
Kondisi ini memicu kekecewaan masyarakat sekaligus memperkuat dugaan lemahnya kualitas pekerjaan.
Presidium Obor Cirtim, Qorib Magelung Sakti, menyatakan pihaknya akan mengambil langkah serius atas temuan tersebut.
Ia menilai pekerjaan proyek jalan tersebut diduga dikerjakan secara asal-asalan dan tidak memenuhi standar kualitas teknis.
“Ini jelas tidak masuk akal. Jalan hotmix baru sehari selesai dikerjakan tapi sekarang sudah ambrol dan mengelupas. Bahkan aspalnya sangat mudah hancur hanya dengan dipegang tangan kosong. Ini sangat merugikan masyarakat dan terkesan main-main dengan anggaran negara,” tegas Qorib.
Atas kondisi tersebut, Obor Cirtim mendesak dinas terkait untuk segera melakukan evaluasi dan pengecekan menyeluruh terhadap paket pekerjaan Jalan Halimpu–Wangkelang yang diduga tidak sesuai spesifikasi teknis.
Qorib juga menyayangkan lemahnya pengawasan dari DPUTR Kabupaten Cirebon terhadap proyek yang menjadi tanggung jawabnya.
“Bukan hanya kontraktor, DPUTR juga harus bertanggung jawab. Sorotan publik saat ini sangat besar, terutama di wilayah Kecamatan Greged dan Cirebon Timur,” ujarnya.
Menurut Qorib, kerusakan yang terjadi dalam waktu singkat ini mengindikasikan adanya kesalahan konstruksi, bahkan tidak menutup kemungkinan adanya praktik tidak sehat dalam pelaksanaan proyek.
Dengan volume pekerjaan sepanjang 230 meter dan lebar 3,50 meter, hasil pekerjaan justru dinilai gagal memberikan kualitas yang layak.
“Ini ada yang tidak beres dan akan kami laporkan secepatnya. Masyarakat berhak mendapatkan fasilitas jalan yang layak dari anggaran negara, bukan proyek yang terkesan dibuang cuma-cuma,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Bina Marga DPUTR Kabupaten Cirebon, Iwan Santoso, memberikan klarifikasi terkait ambrolnya jalan tersebut.
Ia menyebut faktor cuaca dan kondisi kontur jalan menjadi penyebab utama kerusakan.
“Itu bisa ambrol karena pengaspalan baru selesai kemudian turun hujan deras. Posisi aspal yang ambrol berada di turunan jalan, sehingga aliran air cukup deras,” ujar Iwan saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Senin (12/1/2026).
Iwan menambahkan, sebagai bentuk tanggung jawab, pihaknya telah memanggil kontraktor pelaksana proyek, yakni CV Adi Jaya Mahawira, untuk segera melakukan perbaikan di titik jalan yang rusak.
“Kami sudah memanggil kontraktor dan akan segera dilakukan perbaikan. Rencananya besok diperbaiki,” katanya.
Sebelumnya, Aliansi Peduli Cirebon Selatan (ASPECS) juga menyoroti tajam hasil pekerjaan Jalan Halimpu–Wangkelang yang kembali mengalami kerusakan sehari setelah selesai dikerjakan.
Ketua ASPECS, Ipoel, menuding lemahnya pengawasan dari DPUTR Kabupaten Cirebon sebagai faktor utama terjadinya kerusakan dini tersebut.
“Baru sehari selesai dikerjakan tapi sudah rusak dan ambrol lagi, jelas ini ada yang tidak beres. Ini patut diduga ada sesuatu. Kerusakan dini ini memperkuat dugaan bahwa kualitas tidak menjadi prioritas dalam pelaksanaan pembangunan,” kata Ipoel.
ASPECS pun mendesak DPUTR Kabupaten Cirebon untuk melakukan evaluasi menyeluruh, memanggil kontraktor pelaksana, serta menjatuhkan sanksi tegas apabila terbukti terjadi pelanggaran.
“Kami tidak ingin kejadian seperti ini terus berulang. Harus ada langkah nyata dari pemerintah agar pembangunan benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat,” tegasnya.



















