Cirebon – Pelaksanaan program prioritas pemerintah di bidang infrastruktur sumber daya air kembali menjadi perhatian publik.
Salah satunya pada kegiatan rehabilitasi Daerah Irigasi (D.I) Agung yang berada di Desa Japura Kidul, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon.
Proyek yang diharapkan mampu kembali mengaliri ratusan hektare lahan pertanian itu justru menuai sorotan warga karena pengerjaannya dilaporkan mandeg, Sabtu (10/1/2026).
D.I Agung selama ini menjadi urat nadi pengairan bagi ratusan hektare sawah yang tersebar di Desa Japura Kidul, Kecamatan Astanajapura, hingga sejumlah desa di Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon.
Keberadaan saluran irigasi tersebut sangat vital bagi keberlangsungan pertanian dan ketahanan pangan masyarakat setempat.
Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk Cisanggarung (Cimancis) sebagai institusi yang memiliki peran strategis dalam pengelolaan sumber daya air, diketahui tengah mendorong percepatan rehabilitasi sejumlah daerah irigasi di wilayah kerjanya, termasuk D.I Agung di Japura Kidul.
Namun dalam praktiknya, proyek yang semestinya menjadi solusi irigasi pertanian warga itu justru dipertanyakan.
Warga dan tokoh pemuda setempat menyoroti terhentinya aktivitas pekerjaan di lapangan.
Kondisi tersebut dinilai telah mengganggu aktivitas masyarakat, khususnya para petani yang sangat bergantung pada pasokan air irigasi.
Informasi yang dihimpun di lapangan menyebutkan, mandegnya pengerjaan proyek diduga disebabkan belum adanya pembayaran dari pihak kontraktor utama kepada pihak ketiga yang melakukan pekerjaan. Kontraktor pelaksana proyek tersebut diketahui merupakan PT Waskita Karya.
Akibat kendala pembiayaan, terutama untuk belanja material, aktivitas proyek dilaporkan terhenti sejak Jumat, 9 Januari 2026.
Salah seorang warga Japura Kidul sekaligus tokoh pemuda setempat, Budiman, menyayangkan kondisi tersebut.
Ia berharap persoalan yang terjadi dapat segera diselesaikan agar proyek rehabilitasi irigasi kembali berjalan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Harapannya proyek ini bisa segera dilanjutkan, sehingga irigasi kembali berfungsi dan bermanfaat bagi warga, terutama para petani. Jika memang ada persoalan pembayaran, sebaiknya segera dibicarakan. Jangan sampai karena miss komunikasi justru berdampak pada kemaslahatan masyarakat,” ujarnya.
Menurut Budiman, semua pihak yang terlibat seharusnya dapat duduk bersama untuk mencari solusi terbaik. Pasalnya, keberadaan D.I Agung sangat menentukan keberlangsungan sektor pertanian di wilayah tersebut.
Mandegnya rehabilitasi D.I Agung Japura Kidul pun kini menjadi ujian serius bagi komitmen semua pihak agar program strategis pemerintah benar-benar mampu menjawab kebutuhan petani dan tidak berhenti di tengah jalan.



















