CIREBON – Bagi sebagian orang, barang antik mungkin hanya benda lama yang tersimpan di sudut rumah. Namun bagi Iduy, setiap benda memiliki cerita, karakter, bahkan nilai seni yang tidak selalu bisa diukur dengan angka.
Kecintaan terhadap dunia seni itulah yang membuat Iduy tetap bertahan selama puluhan tahun menggeluti usaha kerajinan tangan, batu akik dan jual beli berbagai barang antik.
Pemilik Gamestone Iduy tersebut kini membuka usahanya di salah satu ruko di kompleks Alun-alun Lemahabang, Desa Lemahabang, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon. Meski belum genap setahun menempati lokasi tersebut, ia terus memperkenalkan berbagai koleksi seni kepada masyarakat.
Di tempatnya, masyarakat dapat menemukan beragam benda antik dan kerajinan, mulai dari batu akik, keris, golok, pedang samurai, guci-guci jadul, minyak misik, dupa hingga berbagai aksesori seperti gelang, kalung dan ring batu akik.
Iduy juga melayani poles batu serta pembuatan dan pemasangan ring untuk batu akik.
“Sudah puluhan tahun saya bergelut di dunia seni dan kerajinan tangan. Dari dulu memang saya senang dengan barang-barang seni dan antik. Walaupun tempatnya berpindah-pindah, saya tetap menjalani bidang ini,” ujar Iduy, Sabtu (26/9/2026).
Perjalanan panjang tersebut tidak selalu diwarnai kemudahan. Iduy mengaku pernah merasakan berbagai fase pasang surut, terutama ketika tren masyarakat terhadap produk tertentu mengalami perubahan.
Salah satu masa yang paling membekas adalah ketika batu akik menjadi fenomena di tengah masyarakat. Saat itu, batu akik begitu digemari, bahkan permintaannya datang dari berbagai kalangan.
Iduy pun merasakan langsung bagaimana tren tersebut memberikan berkah bagi para pelaku usaha batu akik.
“Kalau bicara batu akik, saya pernah mengalami masa ketika batu akik benar-benar ramai. Mulai dari batu bahan, kemudian dipoles sampai menjadi cincin, semuanya banyak dicari,” tuturnya.
Namun, ketika tren tersebut perlahan mereda, Iduy tidak memilih untuk meninggalkan dunia yang sudah puluhan tahun digelutinya.
Baginya, seni bukan sekadar mengikuti tren pasar. Ada kecintaan dan kepuasan tersendiri ketika bisa merawat, mengolah dan memperkenalkan sebuah karya kepada orang lain.
“Memang sekarang tidak seramai dulu. Tapi peminatnya masih ada. Anak-anak muda juga masih ada yang suka, begitu juga orang yang lebih tua. Jadi selama masih ada yang menghargai karya seni, saya akan tetap menjalani ini,” katanya.
Semangat tersebut menjadi alasan Iduy untuk terus bertahan. Ia menyadari bahwa dunia usaha selalu mengalami perubahan. Apa yang ramai hari ini belum tentu diminati pada masa mendatang.
Karena itu, menurutnya, seorang pelaku UMKM harus memiliki kesabaran, kreativitas dan kemauan untuk terus beradaptasi tanpa kehilangan jati diri.
Di tengah kesibukannya mengelola usaha, Iduy juga aktif dalam berbagai kegiatan organisasi kepemudaan dan lembaga sosial. Sebagai tokoh masyarakat, ia turut memberikan perhatian terhadap berbagai persoalan sosial yang berkembang di lingkungan sekitar.
Baginya, berkarya di bidang seni dan berkontribusi kepada masyarakat merupakan dua hal yang dapat berjalan beriringan.
“Seni ini sudah menjadi bagian dari kehidupan saya. Selain usaha, saya juga ingin tetap bermanfaat untuk masyarakat melalui kegiatan sosial dan organisasi,” ujarnya.
Puluhan tahun perjalanan Iduy menjadi gambaran bahwa mempertahankan sebuah usaha tidak selalu tentang seberapa besar keuntungan yang diperoleh. Ada proses panjang, ketekunan dan kecintaan yang membuat seseorang mampu bertahan ketika keadaan berubah.
Dari sebuah batu yang awalnya tampak biasa, Iduy mengajarkan bahwa sesuatu yang sederhana dapat memiliki nilai ketika diolah dengan ketekunan dan rasa seni.
Kini, di tengah perubahan zaman dan bergantinya selera masyarakat, ia masih berdiri dengan keyakinan yang sama: terus berkarya, menjaga seni, dan memberikan ruang bagi karya-karya lama untuk tetap hidup di tengah generasi baru.



















