banner 728x250

Pengasuh PP Gedongan Cirebon Petakan Empat Poros Dukungan, AHWA Dinilai Jadi Penentu Utama

IMG 20260516 WA0012
banner 120x600
banner 468x60

CIREBON – Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), dinamika perebutan posisi strategis di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mulai menjadi perhatian publik Nahdliyin. Sabtu (16/5/2026).

Salah satu jabatan yang kini menjadi sorotan adalah posisi Rais Aam PBNU untuk masa khidmat 2026–2031.

banner 325x300

Pengasuh PP Gedongan Cirebon, KH. Taufikurrahman Yasin, menilai peta kekuatan calon Rais Aam mendatang tidak hanya ditentukan faktor elektoral semata, tetapi juga dipengaruhi jejaring pesantren, kedekatan kultural, serta mekanisme pemilihan melalui Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).

“Dalam tradisi NU, jabatan Rais Aam bukan posisi yang dikejar melalui kampanye terbuka. Ini amanah spiritual yang lahir dari keikhlasan dan ketawadhuan para ulama,” ujar Taufikurrahman Yasin dalam esainya bertajuk Membaca dengan Kearifan Ilmu: Menakar Poros Kekuatan Calon Rais Aam di Muktamar ke-35 NU.

Menurutnya, setidaknya terdapat empat poros besar yang mulai terbaca dalam konstelasi dukungan menjelang Muktamar.

Poros pertama berasal dari Jawa Tengah dengan sejumlah nama yang dinilai merepresentasikan kekuatan khittah dan spiritualitas NU, yakni KH. Ahmad Mustofa Bisri dan KH. Ahmad Bahauddin Nursalim.

Taufikurrahman menilai Gus Mus memiliki posisi moral yang kuat sebagai ulama sepuh yang selama ini dikenal menjaga NU dari tarik-menarik kepentingan politik praktis.

Sementara Gus Baha disebut menjadi magnet baru bagi generasi muda Nahdliyin, terutama kalangan urban, melalui pendekatan keilmuan yang rasional namun tetap berakar kuat pada tradisi pesantren salaf.

“Gus Baha dicintai banyak struktur PCNU lintas daerah karena kapasitas keilmuan tafsir dan hadisnya yang kuat,” katanya.

Sementara poros kedua berasal dari Jawa Timur yang disebut sebagai episentrum tradisionalis-institusional NU. Nama yang mencuat di antaranya KH. Miftachul Akhyar dan KH. Asep Saifuddin Chalim.

Menurutnya, Kiai Miftachul Akhyar memiliki basis dukungan yang kuat dari jaringan pesantren Sidogiri dan Madura.

Adapun Kiai Asep Saifuddin Chalim dinilai memiliki pengaruh besar melalui jaringan pendidikan serta organisasi Pergunu yang telah tersebar hingga tingkat desa.

“Jejaring pendidik NU yang dimiliki Kiai Asep menjadi modal sosial dan organisatoris yang sangat besar,” ujarnya.

Poros ketiga bergerak pada ranah struktural dan nasional dengan menghadirkan nama KH. Said Aqil Siradj dan KH. Ma’ruf Amin.

Taufikurrahman menilai Kiai Said Aqil memiliki kapasitas akademik dan spiritual yang kuat.

Rekam jejak pendidikannya di Universitas Umm al-Qura Makkah serta reputasinya di bidang tasawuf dinilai menjadi kekuatan tersendiri.

“Kiai Said Aqil didukung kalangan loyalis struktural, aktivis badan otonom, dan kelompok intelektual yang menginginkan NU tetap vokal serta memiliki wawasan global,” jelasnya.

Sementara itu, Kiai Ma’ruf Amin disebut masih memiliki kharisma nasional dan pengalaman panjang dalam pemerintahan yang dinilai dapat menjembatani hubungan NU dengan negara.

Tak hanya poros dari Pulau Jawa, Taufikurrahman juga menyoroti kemungkinan munculnya poros luar Jawa yang menurutnya tak bisa dipandang sebelah mata. Beberapa nama yang disebut antara lain Tgk. H. Nuruzzahri Yahya, KH. Baharuddin HS, dan KH. Muhammad Wildan Salman.

Menurutnya, poros luar Jawa berpotensi menjadi titik temu atau alternatif kompromi apabila terjadi kebuntuan dalam musyawarah AHWA antara kekuatan Jawa Tengah dan Jawa Timur.

“Poros luar Jawa membawa semangat desentralisasi kepemimpinan PBNU agar tidak selalu Jawa-sentris,” ucapnya.

Di akhir tulisannya, Taufikurrahman menegaskan bahwa dinamika bursa calon Rais Aam sejatinya bukan sekadar perebutan jabatan.

Lebih dari itu, proses tersebut merupakan upaya membaca kedalaman ilmu, kearifan, dan ketulusan para ulama yang selama ini menjadi penjaga moral bangsa.

“Siapa pun yang nantinya dipilih AHWA sebagai Rais Aam PBNU, beliau adalah lentera umat yang wajib ditakzimi bersama demi membawa kapal besar NU menghadapi tantangan zaman,” pungkasnya.

banner 325x300