banner 728x250

IDI Jawa Barat Ungkap 10 Kasus Influenza Varian Baru, Masyarakat Diminta Tetap Tenang

IMG 20260105 WA0006
banner 120x600
banner 468x60

CIREBON — Munculnya varian baru influenza kembali menyita perhatian publik setelah Kementerian Kesehatan melaporkan puluhan kasus influenza H3N2 subclade K di Indonesia.

Varian ini belakangan populer di tengah masyarakat dengan sebutan “super flu”. Dari total 62 kasus yang tercatat secara nasional, sebanyak 10 kasus dilaporkan berasal dari wilayah Jawa Barat.

banner 325x300

IDI Pastikan Kasus di Jabar Telah Diperiksa Mendalam

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jawa Barat, Moh Lutfhi, mengungkapkan bahwa seluruh pasien di Jawa Barat telah menjalani pemeriksaan lanjutan menggunakan metode whole genome sequencing (WGS) untuk memastikan jenis dan karakteristik virus secara detail.

“Berdasarkan informasi yang kami terima, terdapat 10 pasien di Jawa Barat yang telah diperiksa dan hasilnya positif setelah dilakukan pemeriksaan whole genome sequencing,” ujar Lutfhi saat diwawancarai di Kota Cirebon, Senin (05/01/2026).

Pemetaan Wilayah Jadi Kewenangan Dinkes dan Kemenkes

Meski jumlah kasus telah dikonfirmasi, IDI Jawa Barat belum dapat menyampaikan secara rinci lokasi persebaran pasien.

Menurut Lutfhi, pendataan dan pelacakan wilayah penularan merupakan kewenangan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat bersama Kementerian Kesehatan.

“Kami belum menerima data detail terkait wilayah persebarannya. Surveilans epidemiologi biasanya menjadi tugas Dinas Kesehatan dan Kementerian Kesehatan,” jelasnya.

Istilah ‘Super Flu’ Bukan Terminologi Medis

Di tengah meningkatnya kekhawatiran masyarakat, Lutfhi menekankan pentingnya meluruskan istilah “super flu” yang ramai digunakan. Ia menegaskan bahwa istilah tersebut bukan merupakan terminologi medis resmi.

Dalam dunia kedokteran, kondisi tersebut lebih tepat disebut sebagai influenza like illness (ILI), yaitu kumpulan gejala flu yang dapat disebabkan oleh berbagai jenis virus, tidak hanya virus influenza.

“ILI tidak selalu disebabkan oleh satu virus tertentu. Bisa karena influenza, tapi juga dapat dipicu oleh virus lain seperti rhinovirus, parainfluenza, atau virus pernapasan lainnya,” paparnya.

Mutasi H3N2 Dinilai Tidak Bersifat Ekstrem

Lebih lanjut, Lutfhi menjelaskan bahwa virus influenza memiliki beberapa tipe utama, seperti H1N1 dan H3N2.

Di Indonesia, tipe H3N2 justru lebih sering ditemukan dibandingkan tipe lainnya. Subclade K yang saat ini terdeteksi merupakan hasil mutasi dari virus H3N2.

“Mutasi ini memang ada, namun tidak bersifat ekstrem. Karakteristiknya relatif mirip dengan virus influenza lain yang selama ini sudah dikenal,” ujarnya.

Waspada Tanpa Panik Berlebihan

Berdasarkan karakteristik tersebut, IDI Jawa Barat mengimbau masyarakat untuk tetap waspada namun tidak panik berlebihan.

Dari sisi tingkat keparahan, influenza varian ini dinilai tidak jauh berbeda dengan flu pada umumnya, meski memiliki tingkat penularan yang cenderung lebih cepat.

“Ini pada dasarnya masih virus flu biasa. Tidak perlu disikapi seperti pandemi Covid-19 karena jenis dan tingkat bahayanya berbeda. Hanya saja, penyebarannya bisa lebih cepat,” tutur Lutfhi.

Ia pun mengingatkan masyarakat agar menjaga daya tahan tubuh, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala flu berat atau berkepanjangan.

Dengan kewaspadaan yang tepat, risiko penyebaran dapat ditekan tanpa menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat.

banner 325x300