banner 728x250

Produksi Capai 3.000 Ton, Petani Garam Pengarengan Minta Geomembran Lebih Tahan Lama

IMG 20260930 WA0027
banner 120x600
banner 468x60

CIREBON — Petani garam di Blok Beda’an, Desa Pengarengan, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, berharap adanya bantuan geomembran berkualitas untuk mendukung peningkatan produktivitas sekaligus mengurangi kerugian akibat kerusakan sarana produksi.

Lahan tambak garam di kawasan tersebut mencapai sekitar 200 hektare. Namun, lahan yang benar-benar produktif diperkirakan berada di kisaran 100 hingga 150 hektare. Pada musim produksi 2026, total hasil garam dari wilayah tersebut mencapai sekitar 3.000 ton.

banner 325x300

“Produksi tahun ini relatif stabil, sekitar 3.000 ton,” ujar salah seorang petani garam Desa Pengarengan, Warnadi, Rabu (30/9/2026).

Warnadi mengatakan, dirinya telah puluhan tahun menggarap tambak garam dengan luas sekitar 0,5 hektare. Dalam satu musim panen, lahan tersebut mampu menghasilkan sekitar 50 ton garam.

Menurutnya, kondisi harga garam di tingkat petani saat ini juga cukup membantu. Harga berada di kisaran Rp700 ribu per ton dan relatif stabil.

“Harga sekarang cukup stabil, mudah-mudahan hasilnya juga maksimal,” katanya.

Ia menilai produksi garam pada 2026 lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya yang sempat terdampak kondisi kemarau basah. Stabilnya harga dan produksi menjadi harapan bagi petani agar pendapatan mereka tetap terjaga.

Meski demikian, petani masih menghadapi persoalan pada penggunaan geomembran sebagai salah satu sarana produksi. Geomembran dengan ketebalan sekitar 0,05 milimeter dinilai terlalu tipis sehingga mudah mengalami sobek dan kebocoran.

Bahkan, menurut Warnadi, geomembran tersebut dalam dua kali musim panen sudah mengalami banyak kerusakan.

“Geomembran yang tipis cepat bocor. Kami berharap ada bantuan yang lebih berkualitas,” ungkapnya.

Sementara itu, petani yang memiliki modal lebih biasanya memilih membeli geomembran secara mandiri dengan ketebalan sekitar 300 mikron. Material tersebut dinilai lebih kuat dan memiliki daya tahan lebih baik untuk menunjang proses produksi.

Selain persoalan sarana produksi, faktor cuaca juga masih menjadi tantangan bagi petani garam. Hujan yang turun meski hanya dalam waktu singkat dapat mengganggu proses produksi dan membuat petani harus menunda panen.

“Kalau hujan turun, panen terpaksa ditunda beberapa hari,” jelas Warnadi.

Penundaan panen bahkan bisa berlangsung hingga lima hari atau satu minggu, tergantung kondisi cuaca dan tingkat penguapan di lahan tambak.

Karena itu, Warnadi berharap dukungan fasilitas penunjang, khususnya bantuan geomembran dengan kualitas yang lebih baik, dapat diberikan kepada petani garam di Pengarengan.

Menurutnya, sarana produksi yang lebih kuat akan membantu petani mengurangi biaya penggantian geomembran sekaligus menjaga keberlangsungan produksi.

“Kalau harga stabil dan produksi maksimal, kesejahteraan petani tentu bisa meningkat,” pungkasnya.

banner 325x300