CIREBON – Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Bio Merpati Desa Karangsuwung, Kecamatan Karangsembung, Kabupaten Cirebon, terus menunjukkan komitmennya dalam membangun kemandirian desa melalui pengembangan sektor pertanian berbasis teknologi.
Penanaman berbagai jenis sayuran, buah-buahan, hingga tanaman bernilai ekonomis terus digencarkan sebagai bagian dari strategi fiskal desa, Selasa (27/1/2026).
Kuwu Desa Karangsuwung, Arif Nurdiansyah, menegaskan bahwa penguatan sektor pertanian bukan sekadar program jangka pendek, melainkan langkah strategis untuk membangun ketahanan fiskal desa secara berkelanjutan.
Hal tersebut disampaikannya saat meninjau kebun hydroponik BUMDes Bio Merpati di Blok Manis 1.
“Sejak awal saya mendorong BUMDes agar tidak hanya fokus pada keuntungan sesaat, tetapi juga membangun strategi fiskal desa yang kuat. Pertanian hydroponik dan aquaponik menjadi salah satu pilihan karena memanfaatkan lahan desa secara maksimal,” ujarnya.
Menurut Arif, pemanfaatan teknologi pertanian modern menjadi solusi di tengah keterbatasan lahan pertanian konvensional. Selain lebih efisien, hasil panennya juga memiliki nilai jual yang cukup menjanjikan untuk menopang ekonomi desa.
Program ini tidak hanya dikelola oleh BUMDes, tetapi juga melibatkan partisipasi aktif masyarakat. Pemerintah desa secara bertahap mengajak warga di sejumlah blok untuk ikut menanam berbagai komoditas, seperti sayuran dan cabai, baik secara berkelompok maupun mandiri di pekarangan rumah.
“Alhamdulillah, warga sudah mulai menanam sendiri. Untuk cabai misalnya, kami sudah panen dan hasilnya bisa langsung dirasakan oleh masyarakat,” kata Arif.
Selain hydroponik, Desa Karangsuwung juga mengembangkan tanaman serai (sereh) dalam skala luas hingga mencapai hektare.
Komoditas tersebut telah dipasarkan secara berkelanjutan dan memberikan kontribusi nyata terhadap pendapatan desa.
“Hasil panen sereh sudah berjalan dan terbukti bisa menjadi salah satu penopang ekonomi desa. Ini bukti bahwa sektor pertanian memiliki potensi besar jika dikelola dengan serius,” tambahnya.
Lebih lanjut, Arif menyampaikan bahwa program ketahanan pangan yang dijalankan Desa Karangsuwung sejalan dengan visi nasional, khususnya Nawacita Presiden Prabowo Subianto dalam mendorong kemandirian pangan dari tingkat desa.
Ia optimistis, dengan inovasi dan konsistensi pengelolaan potensi desa, Karangsuwung tetap mampu berkembang meskipun di tengah kebijakan efisiensi dan penyesuaian anggaran dana desa.
“Kami ingin memastikan desa tetap mandiri meski ada pemangkasan atau pengalihan anggaran, termasuk kebijakan 40 persen dana desa untuk Koperasi Desa Merah Putih. Kemandirian desa harus terus dibangun,” tegasnya.
Menurutnya, sinergi antara pemerintah desa, BUMDes, dan Koperasi Desa menjadi kunci agar desa tidak sepenuhnya bergantung pada anggaran pemerintah.
“Ini kami jadikan momentum untuk bangkit. Dengan kolaborasi yang kuat, kami yakin Desa Karangsuwung bisa semakin maju dan mandiri,” pungkasnya.



















